Suasana
savana Merbabu sore itu sangat sendu, cuacanya cerah bahkan terkesan agak
panas. Padang rumput luas di sertai beberapa pohon besar adalah hal yang hanya
bisa di nikmati oleh mata. Tidak ada hiruk pikuk kota, tidak ada pertanyaan
kamu mau jadi apa? Yang ada hanya cerita, kopi dan kita. Ya, sore itu kita
memutuskan untuk singgah di savana Merbabu, menikmati hal yang indah sebelum
esok memutuskan untuk kembali ke kota. Tenda sudah berdiri, trangia sudah
menyala dan air siap tersaji. Sore itu kita meyepakati kalo hanya kopi,
beberapa potongan buah dan cerita yang menjadi menu untuk menambah kalori. Kita
mengundi siapa dulu yang harus memulai bercerita, dan aku mendapatkan urutan
terakhir untuk bercerita.
Cerita
pertama adalah cerita soal kawan yang tidak tahu harus berbuat apa, ketika ia
merasa ditinggalkan oleh beberapa temannya yang lebih memilih mencari teman
baru karena terlalu banyak ber ekspektasi terhadap hal yang hanya mereka lihat
dari luar. “dont judge book by its cover” bisa menjadi dua mata pisau yang berbeda.
Mungkin cerita teman yang pertama ini adalah salah satunya. Beberapa teman yang
meninggalkan hanya melihat tampilan bagus dari apa yang ia kerjakan. Padahal
ketika teman-teman ini masuk dan berkegiatan tidak ada hal yang menarik sama
sekali bahkan membosankan. Cerita pertama pun berakhir dengan kalimat “harusnya
teman-teman low expectation, high
contibution” karena kita semua masih belajar berkembang dan berkembang
terus.
Lalu
temanku, ia teman yang paling lugu. Ia bercerita, beberapa teman aktif dalam
pertemanan lainnya. Teman-teman yang aktif ini berusaha membandingkan
pertemanan yang disini dan disana. Ia hidup sebagai petualang mencari tujuan
dan kepuasan. Beberapa teman bisa dengan adil membagi waktunya terhadap
pertemanan. Lebih banyak lainnya bahkan hanya meninggalkan harapan pertemanan
di tempat yang lain. Padahal temanku ini, sangat susah untuk memulai
pertemanan. Ia bahkan terlalu lugu untuk mengerti bahwa beberapa teman hanya
datang untuk mencari suasana baru yang tidak ia dapatkan dalam pertemanan
lainnya. Cerita kedua pun berakhir dengan kalimat “harusnya teman-teman
menetapkan tujuan apa yang akan kalian tetapkan dalam pertemanan”.
Cerita
ketiga, beberapa potongan apel dan pear masuk ke dalam mulut teman ku sebelum
ia bercerita. Sepertinya hal yang akan ia keluarkan terlalu berat sehingga
memerlukan asupan kalori. Ia memulai cerita dengan pertanyaan, apakah ada teman
yang tidak menyambut kedatangan teman yang sudah lama tidak kelihatan?. Lalu
sambil sesekali menyeruput kopi, ia bercerita perihal teman lama yang beberapa
kali ikut kegiatan tapi dengan kesibukan mereka sudah lama mereka tidak
kelihatan. Setelah kesibukan mereka selesai ada hal yang simpel yang ternyata
membuat mereka belum juga kelihatan. Perasaan malu sudah lama tidak melakukan
kegiatan bersama teman. Mereka memilih menahan rindu tidak bertemu teman
daripada membuang rasa malu mereka. Bukankah teman yang baik, akan membuka
kedua tangan ketika teman lama kembali kelihatan?. Berkali kali ia menggaruk
kepala dan berpikir bagaimana menangani hal yang seperti ini. Ia pun mengakhiri
dengan kalimat “pulang malu, tak pulang rindu” hal yang sering ia lihat di
belakang truk di jalur pantura.
Selanjutya
giliranku bercerita, cukup panjang aku menarik nafas. Memilih kata yang tepat,
kata yang pas untuk ceritaku. Setelah beberapa menit terdiam, aku bercerita
kalau aku mengalami ketiga hal di atas sekaligus beberapa saat ini. Cerita
teman pertama, kedua dan ketiga adalah cerita yang aku alami. Kehilangan teman
yang punya ekspektasi ketiggian, kehilangan teman yang berpetualang kesana
kemari dengan tujuan dan kepuasaan, dan kehilangan teman yang memilih menahan
rindu daripada malu. Sengaja ku tambahkan gula ke dalam kopi ku, karena aku
tahu cerita ketiga temanku akan pahit. Berbeda dengan beberapa saat lalu, ku
seduh kopi ku yang pahit karena mendengar cerita teman yang manis. Maaf aku tidak
bisa bercerita, karena apa yang kalian alami, aku mengalaminya juga.
Aku
hanya berpesan, “petualang yang baik selalu akan rindu akan pulang”. Dan kami
berempat menerima kedatangan kalian, karena tentu kami pun senang berpetualang,
mengeksplor diri kami sendiri, melalui titik limit batas kami sendiri. Tapi
kami akan tetap pulang, esok hari. Kami tetap harus kembali ke kota dengan
hiruk pikuknya, dengan pertanyaan mau jadi apa? Walaupun di savana Merbabu ini
kami mendapatkan keindahan. Karena pertemanan kami adalah keluarga dengan
segala macam kekurangan dan cacian.
Savana
Merbabu, 15 April 2017