Jumat, 10 Oktober 2014

Kemana Kita Akan Berjalan


Hidup kadang aneh, kadang apa yang kita rencanain jauh jauh hari ngga kejadian, kadang apa yang ngga kita rencanain ngalir gitu aja dan kejadian. Pernah liat air mancur di Bunderan HI ? Kalo pernah kasih tau gue dong, gue belom pernah liat langsung kaya gimana. Pernah liat menara Eifel, kalo itu jangan lo kasih tau gue, gue males liat menara Eifel, lagian juga itu menara ga ada romantis-romantisnya. Romantisan juga Tower Mentari di kampung gue, di atasnya ada tulisan awas TEGANGAN TINGGI, dibawah tower lebih TINGGI TEGANGANNYA kalo udah mulai malem dan sepi, hahaha. 

Dulu waktu masih kecil, gue selalu ditanya cita-cita gue mau jadi apa? gue bilang Pelaut abis itu gue nyanyi nenek moyangku dengan bangganya. Menjelang SD pertanyaan kembali muncul, cita-citamu mau jadi apa dek, gue bilang mau jadi Pelaut terus gue nyanyi lagi Nenek Moyangku, sampe SMP gue masih kaya gitu, dan akhirnya nyokap marah-marah. Kata Nyokap "EH Plaut, Nenek Moyang lu Supir Angkot", udah jadi supir angkot aja nemenin mamang lo noh si Panjul. 

Dari SD gue selalu ikut narik angkot sama Almarhum Kakek, doi selalu bangga-banggain gue sebagai cucunya. Sebagai gantinya, gue selalu nemenin dia nonton film India setiap siang. India adalah pelipur lara Kakek gue waktu kena penyakit Struk, dan gue harus ngakalin TV kakek yang udah tua banget dan suka ga ada gambarnya kalo siang, *kalo malem ada gambarnya sih, cuma biru. Adegan yang paling seru pas waktu itu Inspektur Vijay nahan Brigadir Kumar, udah gitu yang bawa mobil tahanannya Bripda Kamaru, abstrak.


Rabu, 06 Agustus 2014

Retta

"Hai, ini Retta yah, salam kenal yah, aku capung"

15 Juni 2013, Pesan yang singkat menandakan percobaan perkenalan pertama dengan wanita penjaja jambu. Ya, selepas pulang mencari data skripsi di Jogja, mungkin data yang terakhir (Deadline udah didepan mata). Diatas Bis 509 Jurusan Blok M - Depok, ditengah terik panas matahari dan nikmatnya pisang goreng. 

"Iya, ini Retta, maaf ini siapa ya"
"oh, ini Biru, temennya Wahyu, dia senior kamu di Kampus"
"Oh ada perlu apa yah?"
"ga ada perlu apa-apa sih, cuma mau saling menyapa aja sesama pendukung MU"
"MU ? maaf saya ga suka bola"
"oh, berarti pas awal-awal ngeliat kamu pake jersey MU, tak pikir kamu fans MU"
"oh, yang baju putih itu ya ? itu dikasih temen si, jadi dipake aja"
"hehe, salah yaa, dikirain fans juga"

Ya, kira-kira seperti itulah, percakapan awal antara gue dan Retta. Tipikal cewek-cewek yang agak sedikit beda. Terkesan dingin dan cuek.

Senin, 04 Agustus 2014

Retta

"Aku jemput kamu ya di bandara"
"gausah mas, bawaanku banyak dan kayaknya ga bisa naik motor"
"kamu bawa berapa banyak?"
"aku bawa satu koper gede, satu tas daypack sama beberapa plastik"
"udahlah, muat pasti. Tunggu aja yaa, aku jemput kamu nanti"
"gausah mas beneran deh"
"aku pasti bisa packing barang kamu diatas motor"

21 Agustus tahun lalu, Sore hari sekitar jam 3. Adi Sucipto airport, this first time i met her. Cardigan oranye, kacamata list hitam, koper biru, dan berkawat gigi tipis. 

"Ini baru bidadari yang dikirim dewa Siwa ke Jogja"

celoteh remaja beranjak dewasa, pertemuan pertama yang cenderung ngga kaku dan terkesan asik. Hasil pedekate 3 bulan lewat media sosial udah cukup mencairkan pertemuan pertama. 

"Retta", begitu dia menyebut namanya. "Biru" timpalku menjawab perkenalan langsung pertama kali. 

"Ini mas bawaanku banyak kan, aku naik taksi aja yah"
"yaudah kalo gitu aku ikutan naik taksi"
"motornya gimana"
"tinggal aja, ntar juga ada yang ambil"
"yaaah, jangan gitu"
"yaudah makannya diem aja, pasti sampe tujuan dan bisa dibawa ini peralatan lenong nya"
"oke lah terserah mas aja"
"nah gitu, percaya deh sama yang udah pengalaman"

Koper ditauh didepan motor matic, tas daypack dipakai didepan badan, perintilan plastiknya silahkan anda bawa dan pegang sendiri. Jalanan jogja sore itu sangat syahduu, barisan mobil besar melaju ke arah Solo, motor bebek yang saling salip menyalip seakan menjadi daya tarik sendiri. Memilih jalan agak memutar adalah strategi yang bagus untuk sedikit melambatkan sampai tujuan, walaupun kaki pegel karena ngangkang terlalu lebar, dan pundak agak pegel karena beban ransel yang lumayan berat, hati ini tetap terasa adem ayem. 

"Tuh kan bisa keangkat semua barang bawaannya"
"hehehe, iya iya, makasih yaa"
"udah santai aja. Ini kan salah satu upaya untuk menambah daya tarik pejantan terhadap betina"
"oke oke, bisa dan sukaa"
"akhirnya aku tau fungsi sebenarnya dari kaca spion itu apa"
"emang buat apa mas"
"buat melihat seseorang dibelakang dengan syahduu"
"terimakasih pencipta spion, semoga berkah untuk mau"
"hahaha, mas bisa aja deh"  

Jumat, 01 Agustus 2014

Retta

Katanya mendoakan adalah pelukan dari jauh..
katanya mencintai adalah proses mengikhlaskan..
katanya ikhlas adalah sebuah sifat yang sulit untuk dicapai..
Katanya rindu adalah soal waktu..


Kamis, 31 Juli 2014

Retta

ada rindu yang kadang malu
ada hasrat yang kadang tidak terucap
hidup adalah kenangan katamu
hidup adalah harapan balasku

ah sudahlah, ini hanya soal waktu
kadang mengikhlaskan tak berarti melupakan
dan kebencian suatu saat tak berguna 

daun yang terbang selalu jatuh
perasaan yang tinggal selalu menetap
ini soal bagaimana waktu menjawab

malam membawa angan dalam khayalan
siang membawa kenyataan dalam kehidupan
dan pagi selalu datang memberi harapan dalam lamunan


Selasa, 22 Juli 2014

RETTA

Ah Sudahlah, tak ada gunanya penolakanmu
ah sudahlah, tak akan berhasil membuat ku membencimu
ah sudahlah, tak ada keraguan akan perasaanku
ah sudahlah, upayaku masih berjalan dengan waktu

diantara gerbong kereta yang melambat di sela stasiun itu
diantara riuh rendahnya suara penjual kopi sachetan
diantara lelapnya wanita tua yang bersandar
diantara itu semua keraguan itu hadir

ini bukan soal cinta atau selebihnya
ini adalah soal keyakinan yang masih di jalankan
dan ini adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya
ah sudahlah, penolakan membuat semakin berkembang


Senin, 26 Mei 2014

RETTA

Lampu jalan Kota Jogja agak redup malam ini, aspal masih basah sehabis hujan sore tadi. Sepanjang jalan Lingkar Luar Utara Kota Jogja masih sepi, salah satu jalan yang sering dipergunakan oleh kendaraan besar yang akan masuk atau keluar kota Jogja itu dibeberapa bagian sedang ada perbaikan. Memasuki jalan Kaliurang yang masih ramai dan entah kenapa ada keinginan untuk sedikit memutar sebelum memutuskan untuk balik kosan sehabis kerja. 

Di Perempatan motor sengaja ku arahkan ke kiri, ada pos polisi yang sudah tidak ada polisinya disana, jangan tanya kenapa karena jam kerja polisi terbatas. Dan biasanya jam-jam segini (sekitar jam 1 malam) pak polisi melayani masyarakat di kantornya atau di pusat hiburan malam. Sebrang pos polisi ada pom bensin, petugasnya malam ini ada yang cantik, sekitaran 25 tahun usianya, namanya Sari, sempat terjadi percakapan sesaat dengan Sari.

"Berapa Liter mas?"
"Full tank mbak"
"Dimulai dari 0 ya Mas?"
"Ngga usah mbak, saya lagi ga niat balikan, apalagi pacaran"
"Maksudnya literannya Mas dimulai dari NOL"
"Hehee, oh silahkan mbak di isi"

Setelah puas mengisi bensin dan menggoda Sari (dia adanya setiap malam selasa diatas jam 10) ini penelitian sungguhan loh. Kalau malam selasa ga ada Sari, dia pasti lagi sakit dan penggantinya juga lumayan cantik tapi kumisan, "SARNO" namanya.

Motor pun kembali melaju ke Selatan, jangan tanya kenapa? karena kosan ada di Utara, di Utara ada gunung Merapi dan di Utara dingin sekali, sedang di Selatan ada Nyi Roro Kidul, temannya Sari dan Ibunya Sarno. Jarak 15 meter dari Pom Bensin, sebelah kiri jalan ada Tukang Bubur dan Batagor, masih inget ngga waktu kamu menahan lapar di kosan dan kesakitan karena kedatangan tamu yang setiap bulan selalu datang, ga bawa oleh-oleh malah buat marah-marah. Waktu itu aku ke kosan dan mengajak dirimu pergi mencari makan, dan kita akhirnya memastikan bahwa tukang bubur itulah yang menjadi pilihan (waktu itu tukangnya belum naik haji, tapi sudah umroh). Waktu itu kita bungkus makanan dan makan dipiring, diatas meja, pakai sendok tanpa garpu, itu pun karena kita makan bubur jadi ngga pake garpu. Kamu bilang bubur itu ngga enak, tapi kamu habisin, suka gitu deh, suka ngabisin buburnya orang.



Sabtu, 24 Mei 2014

Retta


She's got you high and you dont ever know yet
She's got you high and you dont ever know yet

Petikan lagu dari band Indie asal Inggris yang bernama Mumm - Ra (Bukan nama mummy dari Mesir) perlahan terdengar di kamar kosan daerah Kaliurang Jogja. Malam ini cuaca sedikit ramah, tekanan angin berada di sekitar 10meter / detik yang membuat seorang lelaki menggunakan jaket hitam bergambar Rhoma Irama. Biru, ya lelaki itu bernama Biru, walaupun lebih suka memakai warna Hitam dalam segala aktifitasnya. Entah kenapa malam ini dirasa sangat cocok untuk Biru menulis ceritanya dalam rangakaian kalimat yang akan dia gunakan sebagai mas kawin pernikahannya nanti.

1.

Aku adalah Biru adalah lelaki Betawi campur Jawa, nama asilnya Hijau Kuning Kelabu Merah Muda dan Biru. Ya, aku adalah anak dari pasangan Dion (Supardiono) dan Mery (Maryati). Aku terlahir 24 tahun lalu diacara ulang tahun saudara sepupuku yang bernama Agung,

"Waktu itu ibu Merry yang sedang hamil tua terpaksa dateng ke acara ulang tahun Agung (anak dari kakaknya Ibu). Ibu pernah bercerita kalau dirinya diminta datang menggantikan badut sulap diacara ulang tahun Agung. Biru lahir ketika semua anak menyanyikan lagu Balonku ada lima, dan diantara lirik "meletus balon Hijau Dor" Aku terlahir, sampai sekarang akupun heran kenapa tidak Hijau nama yang diberikan ibu, sudahlah ternyata Bu Merry menggunakan celana dalam warna Biru waktu itu.

Aku adalah penyuka musik Blues, Rock n Roll dan Iwan Fals, beberapa kali aku juga mengagumi Seriosa disebelah kamarku (suara ngorok Ilham), dan musik Rap ketika ibu kos nagih uang kosan sambil bercerita tentang keluarganya yang dalam seminggu bisa diulang sampai 10 kali. Aku juga suka Jazz, terlebih ketika suara cantik Monita dan Raissa berada dalam sela-sela seriousa Ilham.

2.
Ilham semakin menambah kecepatan ngoroknya, entah kenapa suara Monita malam itu terkesan kurang lembut. Oh iya aku lupa, Ilham adalah kawanku, Ilham adalah teman satu kantorku yang dulu, Ilham adalah manusia pemilik berat badan 98 kg, Ilham adalah pemilik senyum manis, dan Ilham adalah penghuni Gembira Loka yang baru (kandang Pinguin Afrika). Ilham adalah pemilik gelar adu panco di salah satu TV Swasta, Ilham adalah seorang pembalap motor, dan Ilham adalah teman satu kosku.

Ilham pindah ke sebelah kamarku karena kosan yang lama tidak diperpanjang disebabkan pemilik kos suka melihat Ilham ngomong sendiri dikamar, suka nyampurin oli mesin di rendaman baju teman kosannya, dan suka mindahin celana dalam teman kosannya ke atas genteng, Ilham berkilah itu semua agar menolak bencana. Ilham punya kekasih dan aku ngga, dan cuma ilham yang mengerti diriku saat ini (untuk Ilham, jangan sering-sering laundry celana dalam di sebelah kosan, kadang-kadang suka diketawain sama yang nyuci, katanya celana dalamnya lucu ada bercak-bercak bau pandan.

Playlist memutar suara lembut Norah Jones, penyanyi dan penulis lagu asal Amerika Serikat, dia lah yang membuat aku suka dengan Monita penyanyi Jazz negeri sendiri. Oksigen sengaja ku tambah dengan beberapa batang Rokok, tenggorokan kubasahi dengan Kopi dan kuping ku tutup dari suara Ilham. Entah kenapa malam ini aku mendadak melankolis dan ingin menceritakan seorang wanita bernama "Retta". 

3.
Jogja akhir tahun 2012, suasana hujan gerimis, alunan musik dari panggung dihalaman salah satu kampus terkenal di Jogja. Tiba-tiba sepasang tangan menepuk pundakku dari belakang dan berbisik

 "dab, arah jam tiga, manis".

Sontak leherku langsung mengarah ke tempat yang di maksud Wahyu, salah satu teman sesama penggiat alam bebas. Benar saja, dengan kaos bola yang menjadi idolaku, wanita tersebut memegang payung di tangan kiri nya dan membawa beberapa buah jus Jambu di tangan kanan nya. "Aon", waktu itu aku dan Wahyu sepakat bahwa wanita yang baru saja kita liat bernama "AON". 

Jidat yang agak melebihi batas normal, kacamata list hitam dengan bentuk agak sedikit kotak dan kawat gigi tipis yang memagari giginya menjadi bagian yang pertama kali aku kenali dan ingat. Waktu itu aku belum cukup berani untuk kenalan, ini disebabkan karena masih ada wanita yang menungguku kembali dengan selamat sampai di Jakarta. Ya waktu itu Mita masih menjadi pacarku yang sangat baik, ceria dan sedikit manja. Dan ketertarikanku terhadap "AON" hanya sebatas mengagumi kecantikannya.

Akupun kembali ke Jakarta dan menjalani hidup dengan biasa, bersama kawan-kawan organisasi pecinta alam, bersama mahasiswa akhir yang sedang skripsi, bersama adik kelas dikampus ketika mengulang kelas Bahasa Inggris. 

4.
Aku adalah mahasiswa tingkat akhir di salah satu Universitas yang katanya terkenal di Indonesia. Padahal menurutku biasa aja, toh tetanggaku yang semenjak SD jarang naik kelas bisa masuk kedalam Universitas yang sama beda tingkatan. Kuliah udah dirasa ngga asik, bolak balik ruang dosen pembimbing, bolak balik kertas revisian, bolak balik liatin foto mantan, dan bolak-balik cari referensi penambah revisi adalah kerjaan sehari-hari di semester akhir ini. Sidang semester ganjil akan segera diumumkan, jangan cari nama Biru, sebab Biru baru masuk bab 2 dan itupun baru tulisan Bab 2. 

Kamis, 22 Mei 2014

Hai Cecil

Hai Cecil
Aku pernah denger kalo obat hati itu hati
Hai Cecil
Aku sering denger kalo nikah beda agama itu dilarang
Hai Cecil
Aku juga tau kamu ga sendiri
Hai Cecil
Kamu juga tau aku masih menyimpan rindu sama yang dulu

Belakangan ini, agak sedikit intens sama Cecil, Cecil adalah salah satu wanita cantik di kantor yang lama, tipikal wanita Solo yang nyenengin, adem dan ga banyak tingkah. Cecil sudah punya cowok (Bukan Ilham). Cecil adalah penganut agama yang beda denganku, "Lantas kenapa" agama cuma mengenalkan kita kepada Tuhan, dan Tuhan mengenalkan aku dengan Cecil, jadi pas kan. 

Usia Cecil diatasku sedikit, tapi dengan porsi tubuh yang proporsional cenderung kecil Cecil terlihat sangat muda dan menyenangkan. Cecil selalu mendapat godaan dariku di kantor, mungkin karena itulah Cecil kangen ketika aku memutuskan keluar dari Kantor (padahal dipecat). Bentar-bentar, suara Ilham ganggu dari kamar sebelah dan menembus tembok.


Senin, 19 Mei 2014

MATA INDAH BOLA PINGPONG

Hari itu hari yang sabtu dan sedikit biru
Hari itu aku berpapasan denganmu
Hari itu aku menunduk malu bertatapan melihatmu
Hari itu untuk pertama kali kita ketemu sejak beberapa bulan lalu

Mata mu masih terkesan tajam dan garang
Jidatmu masih sama lebarnya 
Caramu berkomunikasi dengan gerakan tolak pinggang masih sama
Dan Senyum lebar yang terhias dengan kawat gigi tipis aku kenal

Dari meja pingpong aku melihatmu diam-diam
sekitar 10 meter dari posisimu yang bermain dengan anak kecil
aku berharap bola pingpong yang ku mainkan bergerak mendekatimu
tapi tak mungkin karena berat massa bola pingpong tak akan mendekatimu

Selama 60 menit aku hanya terdiam dan mengenang
Selama 60 menit kakiku serasa di rantai ketika ingin mendekatimu
Selama 60 menit yang ku dengar hanya gelak tawamu
dan selama 60 menit aku selalu kalah main pingpong



MELANKOLIS

akhir-akhir ini sering nyeduh kopi hitam di tengah malam dan lupa di minum, sempat terbersit dalam pikiran akan tanggapan tetangga kosan, "nih anak ikut pesugihan atau apa, selalu ada gelas dengan porsi penuh disamping kasurnya". Dan detik ini, jam ini, tepat disaat bisul nyaris pecah, kamar sebelah malah nyetel "I Dont Wanna Miss Think". Plis gue mau move on, minimal dari bisul yang satu ini. 

dan yang paling ga abis pikir, sering kali dapet SMS "nengdi koe?" dari penguni kamar kosan yang punya nama "Ilham Novianto Gay Gendud". Jijik ngga kalo baca nama itu muncul di kontak bbm, (ngomongnya di di hack, tapi udah sebulan ga ganti-ganti, antara seneng sama nama itu atau ga bisa ganti nama lagi. Usut punya usut, cuma di BB gue yang belom keganti, "nasib jomblo sejati").

Ilham adalah penghuni Gembira Loka Zoo yang baru (jika anda berpikir Pinguin dari Afrika, anda salah). Ilham adalah semacam, sejenis, dan setipe dengan Pinguin (lebih tepatnya 100 pinguin digabung jadi satu), Ya ilham adalah Kandang yang ditempati 100 Pinguin. Ilham adalah Sarjana Hukum dari salah satu Universitas di Semarang, Ilham adalah mantan teman satu kerjaan di salah satu Bank, dan Ilham sekarang menjadi pengangguran. Ilham adalah boneka panda lucu yang dikirim Tuhan untuk mengobati sakit hati saya (corak hitam di panda lebih dominan dari corak putih "itu ilham").

Ilham adalah manusia yang mempunyai senyum manis agak dipaksakan, dan ikhlas kalo ada semangkok Soto di depannya, Ilham pemilik gelar juara Panco di Gembira Loka, Ilham paling suka dengan MSG, dan Ilham naik motor tua yang bapaknya pun tidak mau pake motor itu lagi. Ilham adalah kawanku, Ilham adalah Gay Gendud, dan Ilham adalah alasan kenapa aku harus move on (bayangin aja Ilham kalo udah jongkok atau duduk susah banget berdirinya). 

Plis jangan berpikir aku nyeduh Kopi Hitam tiap malam dan tanpa aku minum itu untuk Ilham, Ilham orang baik, Ilham orang yang lurus, dan Ilham Gay Gendud.


Minggu, 18 Mei 2014

Antara Karina, Aku, dan Rono

Ini adalah ceritaku jaman SMP, waktu itu kelas 3 SMP, masa dimana diriku sangat merasa menjadi Lelaki yang paling ganteng di kelas. Masa dimana aku merasakan menjadi lelaki yang disukai hampir setengah kelasku (ini serius loh, beneran). Pernah dalam kesempatan ketika aku masuk ke kelas ada pembicaraan yang kurang mengenakan, kira-kira seperti ini pembicaraannya "Jadi ini nih cowok yang banyak disukai sama anak-anak, menang apa dia, tampang ngepas, duit ga berbekas, pakaian tak pantas, liat tuh dia bawa besi bekas (waktu itu aku bersepeda ke sekolah, dan sepedaku lebih sering didorong karena lebih berat untuk dinaiki).

Termasuk si Karin, wanita keturunan Batak, cantik, putih, dan sedikit berat suaranya. Karina adalah teman satu kelasku di kelas 2 SMP, lalu kita sekelas lagi kelas 3 SMP. Karina punya mata yang bulat, bibir tipis, rambut panjang dan tubuh yang tidak terlalu tinggi. Karina salah satu wanita yang banyak disukai dikelas termasuk si Rono. Rono adalah kawan baik, kawan satu Band, kawan seperjalanan pulang, dan kawan yang paling suka aku pinjam uangnya.

Tiba-tiba Karina dan Rono menjalin hubungan yang dekat, mungkin Karin terlalu lama menunggu aku yang waktu itu lebih sering menghabiskan waktu bermain tebak nomer seri di uang lembaran. Atau sengaja mengunci pintu kelas supaya guru PPKN yang waktu itu masih perawan tua tidak masuk kelas dan memilih kembali ke Ruang guru. Ya itulah aku, dikenal sebagai salah satu berandalan yang pernah memalak anak SMA sebelahku (memalak itu meminta uang), sering dipukul kepalanya menggunakan ujung belakang spidol oleh guru Bahasa Indonesia yang namanya sama dengan pemangsa daging asal Purbalingga (baca Sumanto).

Jadi setelah mereka sudah cukup dekat dan jadian, Karin selalu diantar pulang Rono, melewati gunung dan lembah, kadang mampir di supermarket (APAAAASIHHHHH). Karin selalu dianter pulang sama Rono, dan aku selalu berada didepan atau dibelakang mereka berdua. Aku yang tidak punya perasaan terhadap keduanya "terutama Rono" menganggap mereka pasangan yang cocok. Ya minimal tinggi mereka cocok lah, tidak tinggi terkesan pendek.

Sesekali Karin menolak dipegang tangannya oleh Rono, mungkin Karin tau kalau Rono sering nyemil MSG, atau bahkan mungkin Rono sering ngupil menggunakan jempolnya. Setelah aku teliti Rono tidak seperti itu, Rono lebih sering ngemil Roy*co dicampur MSG kadang upilnya. Rono juga tidak pernag ngupil menggunakan jempolnya sendiri, melainkan jempol Karin. Terkadang Karin juga selalu terdiam dan malu ketika Rono menunjukkan bulu hidungnya yang kadang suka keluar.

Tiba-tiba dalam beberapa kesempatan Karin melihat ke belakang, ke arahku ketika dia berjalan bersama Rono, sesekali aku tersenyum dan mengangguk perlahan ke arah Karin. Entah apa yang ada dalam pikiran Karin, aku memilih diam sambil melempar-lempar topi SMP keatas sampai jatuh atau nyangkut di genteng. Karin melakukan hal tersebut berulang-ulang bahkan hampir setiap kali kita jalan pulang bertiga. 

Untuk Karin, aku pernah suka kamu ketika kamu menjawab pertanyaan guru mengenai soal matematika waktu kita kelas 2. Aku sering diam-diam memandangi rambutmu yang kadang kau gerai sehabis pelajaran olahraga, dan aku sering kagum denganmu ketika suatu masa aku tidak bawa uang dan kau datang dengan sebuah lontong sambil membawa air mineral dan berucap "Ini ambil aja, tadi aku nemu di tong sampah depan kelas".


Fenomena Es Krim di Akhir Tahun 2010

Di akhir tahun 2010 ada sebuah fenomena yang menarik, ribuan anak muda di Indonesia gempar, Puluhan ribu anak kecil menangis, dan Ratusan ibu-ibu menjerit.
Es Krim Manyun yang baru di rilis pada akhir tahun 2010 membuat beberapa waralaba supermarket tutup lebih awal, kehangatan dirumah tidak ada lagi karena sibuk mengantri di supermarket (yang ini hiperbola), yang paling jelas dirugikan adalah mang ujang dan mang pendi, Es krim yang biasa mereka jual tidak laku, tidak abis, bahkan mang ujang lebih memilih jualan Es Te Em Je, Nasib mang Pendi jelas lebih beruntung dengan menjadi pengangguran tapi punya Istri janda kaya.

Sabtu, 17 Mei 2014

Kisah Seorang Penjaja Jus Jambu

Kalo ngga salah waktu itu gerimis turun dengan mesranya, ditengah alunan suara band sebuah acara musik di Kampus Jogja. Kalau ngga salah waktu itu pandanganku hanya tertuju kepada panggung utama di halaman kampus. Kalau tidak salah juga seorang kawan menepuk pundakku dan berucap "dab arah jam 3 asik banget".

Arah jam 3, seorang wanita berseragam Manchester United warna putih
Arah Jam 3, seorang wanita berkacamata manis dengan jidat yang berkilau
Arah Jam 3, seorang wanita manis, manis banget menjajakan Jus Jambu

Sebagai seorang lelaki yang waktu itu mempunyai seorang pasangan, aku hanya bisa mengagumi wanita penjaja jus jambu yang terkena gerimis dibawah lampu, dan dia mengelus air hujan di jidatnya yang agak maju.



Doa Seorang Santri

"Jelas Tuhan jauh lebih berkuasa atas kamu, makanya aku berdoa kepadanya bukan meminta kepadamu, dan ketika Tuhan menerima aku kembali kepadamu, tidak ada gunanya penolakanmu."

Andalus Lah Namanya

Ada sebuah kalimat "The Real Man Wear Aprons", lantas bagaimana dengan logat Rudi Chaerudin? 

Mungkin tato chef Juna yang menjadi landasan terciptanya kalimat ini, atau bahkan jemari telunjuk pak Bondan yang bertemu dengan jari jempolnya membentuk bulatan sambil berucap “maknyus”.

Apapun itu, saat ini hampir tiap malam aku menggunakan Aprons atau dalam bahasa kerennya Celemek disebuah tempat yang menjadi ladang kreatifitasku dalam hal lainnya selain bermusik dan berjoget. Yaa, aku belajar masak, belajar mencampurkan rasa asin, asam, manis, pedas dan bahkan pahit dalam satu komposisi sajian dan rasa yang menarik.

Tidak jauh dari hal yang dulu sering aku lakukan, menyelaraskan gitar, bass, drum dan vokalis dalam satu alunan musik yang asik. Bagiku Musik dan Masak adalah kata yang hampir sama, dan di Andalus lah tempat aku berkarya dengan segala yang ada.

NOTED "kapan-kapan aku masakin kari ayam dan Roti Naan untukmu ya de, sama kaya waktu itu kamu selalu mengisi tempat makanku sambil berharap aku habiskan makanan hasil masakanmu. Aku Koki loh sekarang, walaupun ga sekeren chef Juna atau se macho mas Rudi.

Ada Apa Dengan Rani Episode 11 - Selesai

Rani adalah wanita pertama yang aku tembak secara langsung via telepon. Waktu itu aku cuma bilang 3 kata buat kamu "udah mandi belum ?", dan dia balas dengan 3 kata juga "cebok dulu sana". Hampir satu jam kita main 3 kata seperti itu sampai akhirnya keluar kata "Aku Suka Kamu", sekali lagi Rani menjawab dengan 3 kata juga “Kamu Suka Aku?” Karena kesal bukannya jawaban yang aku terima tetapi malah pertanyaan balik aku ucap 3 kata juga buat Rani "Ngetes Kuping Doang". Dan akhirnya kita pacaran YEAAAAYYYYYYYY.
Setelah kita pacaran selama 6 bulan, datang 4 orang temannya Rani kerumahku. Mereka terdiri dari Kadek (sebagai Alya), Herma (sebagai Maura), Yuli (sebagai Carmen) dan Feni (sebagai Milly), sedangkan Rani sendiri terkenal sebagai Cinta. Lalu aku Rangga sepertinya (bergumam dalam hati). Oh iya satu lagi takut kelupaan, Yudi sebagai pak Dirman.
Kedatangan mereka kerumah untuk menanyakan bagaimana hubungan antara aku dan Rani. Rangga pun sedikit berbicara dan lebih banyak terdiam (Ini aku yang berperan sebagai Rangga). Mereka bilang kalau Cinta setiap malam nangis karena ngerasa ngga dianggap pacar dan Rangga yang terlalu cuek. Bahkan Cinta sekarang sms an sama Pak Dirman karena kesepian.
Akhirnya aku pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan seriusku dengan Rani. Lewat telepon pula aku meminta putus sama Rani, dan Rani pun lagi-lagi berucap 3 kata "Gua Bukan Rani". Loh Siapa ini? gue Bapaknya Rani. 
The END
Rangga pun pergi ke Brunei untuk melanjutkan SMA nya, dalam kepergiannya Rangga meninggalkan 3 kata untuk Cinta “Jangan Telpon Lagi”

Ada Apa Dengan Rani Episode 1 - 10

Akhirnya kita berdua pacaran, tentunya setelah merasakan tamparan dari Yuri kakak kelasku. Yuri bisa main gitar, tomboi dan memiliki tangan besar (salah deh, itu si Yudi temanku yang setiap pagi ngelapin sepeda Wimc*cle hadiah sunatan adiknya). 
Rani adalah rani, dengan rambut kudanya (pony tail), masih dengan sorot matanya yang tajam (Harimau eyes) dan masih dengan hidungnya yang megar (Pig Nose). Selama kita pacaran, Rani selalu kecanduan suaraku, makannya dalam sehari dia bisa telpon ke rumah sebanyak 5-6 kali. Pernah waktu itu Rani telpon aku cuma pengen ingetin kalau di luar hujan dan dia di dalam rumah. Rani oh Rani, dia tetap Rani pacar SMP ku.
Selama masa pacaran Rani selalu sabar dan tidak pernah mengeluh, walaupun aku ngga pernah ajak dia jalan ke Mall atau sekedar menikmati paket attack K*C yang waktu itu masih 5ribu dapat ayam, nasi dan minum. Rani juga selalu sabar melihat aku main dengan teman-temanku di kelas dan ngga pernah ngajak Rani makan nasi uduk Roni yang enak sekali (ini beneran namanya Roni, dan bukan kakaknya Rani).
Rani adalah wanita yang sabar dan ga gampang menuntut, waktu itu aku hanya sekali mengantar Rani kerumah dan tidak mampir. Rani juga hanya sekali aku ajak jalan-jalan selama kita pacaran dalam waktu 6 bulan. Rani juga yang selalu melihat ke arahku dari lantai dua ruang kelasnya ke lapangan basket ketika aku di jemur karena meminta uang anak SMA sebelah (Palak bahasa jermannya).

Ada Apa Dengan Rani

Rani adalah gadis yang lucu (pada saat kami SMP), sekarang juga masih lucu (abis ini aku dipukul pacarnya yang ga lucu). Rani memiliki rambut panjang dan mata yang bulat, badannya juga agak bulat waktu itu. Rani adalah wanita yang lebih dulu di pacari sama teman satu band ku. Rani bukan mawar walaupun dia tinggal di jalan mawar. Rani adalah pacar keduaku setelah Yuri Kakak Kelasku.
Rani dan aku pernah membina sebuah hubungan yang serius waktu itu, Sebab aku tidak suka orang yang tidak serius. Waktu Rani curhat mengenai teman satu band ku secara ngga langsung aku jatuh cinta sama Rani. Pernah suatu saat Rani telepon ke rumah ketika aku baru saja kecelakaan dari motor. Waktu itu yang angkat telpon Rani si Yuri, kakak kelasku, Kalian simpulkan sendiri yah cerita abis telpon itu antara Rani, Aku dan Yuri.