Minggu, 18 Mei 2014

Antara Karina, Aku, dan Rono

Ini adalah ceritaku jaman SMP, waktu itu kelas 3 SMP, masa dimana diriku sangat merasa menjadi Lelaki yang paling ganteng di kelas. Masa dimana aku merasakan menjadi lelaki yang disukai hampir setengah kelasku (ini serius loh, beneran). Pernah dalam kesempatan ketika aku masuk ke kelas ada pembicaraan yang kurang mengenakan, kira-kira seperti ini pembicaraannya "Jadi ini nih cowok yang banyak disukai sama anak-anak, menang apa dia, tampang ngepas, duit ga berbekas, pakaian tak pantas, liat tuh dia bawa besi bekas (waktu itu aku bersepeda ke sekolah, dan sepedaku lebih sering didorong karena lebih berat untuk dinaiki).

Termasuk si Karin, wanita keturunan Batak, cantik, putih, dan sedikit berat suaranya. Karina adalah teman satu kelasku di kelas 2 SMP, lalu kita sekelas lagi kelas 3 SMP. Karina punya mata yang bulat, bibir tipis, rambut panjang dan tubuh yang tidak terlalu tinggi. Karina salah satu wanita yang banyak disukai dikelas termasuk si Rono. Rono adalah kawan baik, kawan satu Band, kawan seperjalanan pulang, dan kawan yang paling suka aku pinjam uangnya.

Tiba-tiba Karina dan Rono menjalin hubungan yang dekat, mungkin Karin terlalu lama menunggu aku yang waktu itu lebih sering menghabiskan waktu bermain tebak nomer seri di uang lembaran. Atau sengaja mengunci pintu kelas supaya guru PPKN yang waktu itu masih perawan tua tidak masuk kelas dan memilih kembali ke Ruang guru. Ya itulah aku, dikenal sebagai salah satu berandalan yang pernah memalak anak SMA sebelahku (memalak itu meminta uang), sering dipukul kepalanya menggunakan ujung belakang spidol oleh guru Bahasa Indonesia yang namanya sama dengan pemangsa daging asal Purbalingga (baca Sumanto).

Jadi setelah mereka sudah cukup dekat dan jadian, Karin selalu diantar pulang Rono, melewati gunung dan lembah, kadang mampir di supermarket (APAAAASIHHHHH). Karin selalu dianter pulang sama Rono, dan aku selalu berada didepan atau dibelakang mereka berdua. Aku yang tidak punya perasaan terhadap keduanya "terutama Rono" menganggap mereka pasangan yang cocok. Ya minimal tinggi mereka cocok lah, tidak tinggi terkesan pendek.

Sesekali Karin menolak dipegang tangannya oleh Rono, mungkin Karin tau kalau Rono sering nyemil MSG, atau bahkan mungkin Rono sering ngupil menggunakan jempolnya. Setelah aku teliti Rono tidak seperti itu, Rono lebih sering ngemil Roy*co dicampur MSG kadang upilnya. Rono juga tidak pernag ngupil menggunakan jempolnya sendiri, melainkan jempol Karin. Terkadang Karin juga selalu terdiam dan malu ketika Rono menunjukkan bulu hidungnya yang kadang suka keluar.

Tiba-tiba dalam beberapa kesempatan Karin melihat ke belakang, ke arahku ketika dia berjalan bersama Rono, sesekali aku tersenyum dan mengangguk perlahan ke arah Karin. Entah apa yang ada dalam pikiran Karin, aku memilih diam sambil melempar-lempar topi SMP keatas sampai jatuh atau nyangkut di genteng. Karin melakukan hal tersebut berulang-ulang bahkan hampir setiap kali kita jalan pulang bertiga. 

Untuk Karin, aku pernah suka kamu ketika kamu menjawab pertanyaan guru mengenai soal matematika waktu kita kelas 2. Aku sering diam-diam memandangi rambutmu yang kadang kau gerai sehabis pelajaran olahraga, dan aku sering kagum denganmu ketika suatu masa aku tidak bawa uang dan kau datang dengan sebuah lontong sambil membawa air mineral dan berucap "Ini ambil aja, tadi aku nemu di tong sampah depan kelas".


Tidak ada komentar:

Posting Komentar